Jumat, 19 April 2013

ASKEP GUILLAEN BARRE


ASUHAN KEPERAWATAN
Kasus 1
Tn. K usia 45 thn berkerja wiraswastawan, bangun tidur dipagi hari mengeluh tidak bisa berjalan. Sebelumnya  dia mengalami diare-diare 2hari dan demam kira-kira 1 minggu sebelumnya. Sebelum sakit Tn kamto sangat aktif baik dalam pekejaannya, olahraga lari pagi, berkebun, mengendarai kendaraan dan merawat dirinya.dia belum pernah dirawat di RS sebelumnya. Hasil pemeriksaan fisik tidak di temukan tanda-tanda obyektif yang menunjukan stroke. Dua hari kemudian kondisi  Tn. K bertambah buruk , tidak mampu menelan air liurnya, kelemahan pada kedua ekstermitas atasnya dan akhirnya menggunakan alat bantu pernafasan (ventilator) dan kemungkinan dipasang tracheostomi. Hasil lumbal punctie pada cairan cerebrospinal di temukan protein tinggi dan tekanan meningkat, leokositosis.
1.    PENGKAJIAN
a.       AKTIVITAS/ISTIRAHAT
Gejala : Adanya kelemahan dan paralisis secara simetris yang biasanya dimulai dari ekstremitas bagian bawah dan selanjutnya berkembang dengan cepat kearah atas.Hilangnya kontrol motorik halus tangan
Tanda : Klemahan otot, paralisis flaksid ( simetris)
Cara berjalan tidak mantap
b.      SIRKULASI
Tanda : Perubhan tekanan darah ( hipertensi/hipotensi )
Disritmia, takikardia/bradikardia
Wajah kemerahan, diaforesis
c.       INTEGRITAS/EGO
Gejala : Perasaan cemas dan terlalu berkonsentrasi pada masalah yang dihadapi.
Tanda : Tampak takut dan binggung
d.      ELIMINASI
Gejala : Adanya perubahan pola eliminasi
Tanda : Kelemahan otot-otot abomen.
Hilangnya sensasi anal ( anus ) atau berkemih dan refleks sfingter.
e.       MAKANAN DAN CAIRAN
Gejala : Kesulitan dalam mengunyah dan menelan
Tanda : Gangguan pada refleks menelan
f.       NEUROSENSORI
Gejala : Kebas kesemutan yang dimulai dari kaki atau jari-jari kaki dan selanjutnya terus naik
Perubhan rasa terhadap posisi tubuh, vibrasi, sensasi nyeri, sensasi suhu.
Perubahan ketajaman penglihatan.
Tanda : Hilangnya/ menurunnya refleks tenon dalam.
Hilangnya tonus otot, adanya masalah keseimbangan.
Adanya kelemahan pada otot-otot wajah, terjadi ptosis kelopak mata- ( keterlibatan saraf kranial)
Kehilangan kemampuan untuk berbicara
g.      NYERI/KENYAMANAN
Gejala : Nyeri tekan pada otot; seperti terbakar , sakit, nyeri ( terutama pada bahu,pelvis, pinggang , punggung dan bokong ) Hipersensitif terhadap sentuhan.
h.      PERNAPASAN
Gejala : Kesulitan dalam bernapas, napas pendek.
Tanda : Pernapasan perut, mengunakan otot bantu napas, apnea penurunan/ hilangnya bunyi napas.
Menurunnya kapasitas vital paru
Pucat/sianosis
Gangguan refleks menelan/batuk
i.        KEAMANAN
Gejala : Infeksi virus nonspesifik ( seperti; infeksi saluran pernapasan atas ) kira-kira 2 minggu sebelum munculnya tanda serangan.
Adanya riwayat terkena herper zoster, sitomegalovirus
Tanda : Suhu tubuh berfluktuasi ( sangat tergantung pada suhu lingkungan
Penurunan kekuatan/tonus otot, paralisis atau parastesia.

j.        INTERAKSI SOSIAL
Tanda : Kehilangan kemampuan untuk berbicara/berkomunikasi.

2.      Pemeriksaan Sistem Syaraf Kranial
Syaraf kranial
Fungsi
Hasil
I (Olfaktorius)
Sensasi bau
Normal
II ( Optikus)
Pengelihatan
Dengan Snelen: buram
nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlear dan Abducens)
Gerakan mata, konstriksi pupil, otot siliaris
Noemal
V ( Trigeminal)
Sensasi Wajah, reflek Kornea, Mengunuyah
Sensasi wajah: Nampak kaku
Kornea: Normal
Mengunyah : agak kaku
VII Vestibokokulear
Keseimbangan dan pendengaran
Pendengeran: Normal
Keseimbangan: tidak bisa berdiri
IX Glosofaringeus
Rasa kecap
Kemempuan menggerakan lidah kaku, namun masih bisa merasakan rasa asin, manis, pait
X( vagus)
Konstraksi Faring, vita suata
Klien mengatakan ada hambatan untuk menelan.
XI (Aksesorius)
Gerekan Otot Streno
Merasa seperti susah menggerakan
XII (Hipohlosus)
Gerakan lidaj
kaku




3. Perhitungan Pemeriksaan reflek
Reflek
Nilai Normal
Hasil
Bisep
+2
+1
Trisep
+2
+1
Brakhialis
+2
+1
Patella
+2
0
Angkle
+2
0
Konstraksi Abdominal
+2
+1
Babinski
+2
0

4. Pemeriksaan Diagnostik
Pemeriksaan
Normal
Hasil
Keterangan
Lumba Pungsi

Peningkatan protein
>430 Mg/L
Terjadinya lisis myelin di otak
EMG

hilangnya H-refleks, CMAP sensorik dengan amplitudo rendah atau hilang dan  F-wave yang abnorma
Penemuan elektrodiagnostik yang cenderung kearah GBS
EKG


kelainan pada T-wave, depresi ST, melebarnya QRS dan berbagai gangguan pada ritme jantung
Kelainan hantaran syaraf ke jantung, karena hilangnya mielin



3.      Clusterring Data
DS
DO
Klien mengatakan :
·         bangun tidur dipagi hari mengeluh tidak bisa berjalan
·         sangat aktif baik dalam pekerjaaannya, olah raga lari pagi, berkebun, mengendarai kendaraan dan merawat dirinya
·         Sebelumnya klien mengalami diare-diare 2 hari dan demam kira-kira 1 minggu sebelumnya
·         sangat aktif baik dalam pekerjaaannya
·         Dia belum pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya
·         Tn Kanto usia 45 tahun
·         Sesak dalam bernapas
Klien terlihat :
·         bertambah buruk,
·          tidak mampu menelan air liurnya,
·         kelemahan pada kedua ekstremitas atasnya dan
·         akhirnya menggunakan alat bantu pernafasan (ventilator) dan kemungkinan dipasang tracheostomi
·         Hasil Lumbal punctie pada cairan serebrospinal ditemukan protein tinggi dan tekanan meningkat,
·          leukositosis.
·         TD: 160/90 mmHg
·         N: 90x/mnt
·         RR: 40x/menit
·         suhu 37,8oC
·         Berat Badan : 48 kg
·         TB : 167 cm

Rencana Asuhan Keperawatan
No
Diagnosa
Tujuan & KH
Intervensi
Rasional
1.






































































































 


2.


Pola nafas tidak efektif  Berhubungan dengan  paralisis otot pernafasan
 Ditandai dengan
DS :
·         klien mengatakn Sesak dalam bernapas
DO :
·         menggunakan alat bantu pernafasan (ventilator)
·         TD: 160/90 mmHg
·         N: 90x/mnt
·         RR: 40x/menit
·         suhu 37,8oC




















































































Gangguan kerusakan mobilitas fisik  Berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler Ditandai dengan
DS :
·         Klien mengatakan bangun tidur dipagi hari mengeluh tidak bisa berjalan
·         Klien merasa baal
DO :
·         Klien terlihat bertambah buruk
·         kelemahan pada kedua ekstremitas atasnya
·         tidak mampu menelan air liurnya








Tujuan :

setelah 1x24 jam dilakukan tindakan fugsi pernafasan adekuat sesuai dengan kebutuhan individu.

KH :
Tak ada tanda distress Pernafasan
RR : 20x/mnt
GDA dalam batas normal.
























































































Tujuan :
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3x24 jam kerusakan mobilitas fisik dapat berkurang


KH :
-    Klien dapat mempertahankan kekuatan otot sup 2/2, inf 2/2
-    Tidak ada laporan atrofi otot dan atau trombosis vena.
-    Pergerakan miring kiri-kanan dengan dibantu.

















Mandiri :

·    Pantau frekuensi, kedalaman dan kesimetrisan pernafasan. Catat peningkatan kerja nafas dan observasi warna kulit dan membran mukosa.






·    Kaji adanya perubahan sensasi terutama adanya penurunan respon pada daerah lengan atas/ bahu.











·    Catat adanya kelelahan pernafasan selama berbicara (kalau pasien masih dapat berbicara)



·    Tinggikan kepala tempat tidur atau letakkan pasien pada posisi duduk bersandar.





Kolaborasi :

·    Berikan obat/ bantu dengan tindakan pembersihan pernafasan, seperti latihan pernafasan, perfusi dada, vibrasi, dan drainase postural.



·    Kaji susunan ventilator secra rutin dan yakinkan sesuai indikasi








·         observasi  persentasi konsentrasi oksigen , yakinkan bahwa aliran olsigen tepat , awasi analisa oksigen atau lakukan analisa oksigen periodic












Mandiri :

·         Kaji kekuatan motorik / kemampuan secara fungsional dengan menggunakan skala 0-5.



·         Berikan posisi pasien yang menimbulkan rasa nyaman . Lakukan perubahan posisi dengan jadwal yang teratur sesuai kebutuhan secara individual


·         Sokong ekstrimitas dan persendian dengan bantal




·         Lakkukan latihan rentang gerak pasif . Hindari latihan aktif selama fase akut


·         Koordinasikan asuhan yang diberikan dan periode istirahat tanpa gangguan






·         Anjurkan untuk melakukan latihan yang terus dikembangkan dan bergantung pada toleransi secara individual



Kolaborasi :

·         Konfirmasikan dengan / rujuk kebagian terapi fisik / terapi okupasi



·         Peningkatan distress pernafasan menandakan adanya kelelahan pada otot pernafasan atau paralisis yang mungkin memerlukan sokongan dari ventilasi mekanik.


·         Penurunan sensasi seringkali (walaupun tidak selalu) mengarah pada kelemahan motorik yang mempengaruhi otot intercostal. Oleh karena itu tangan/ lengan yang terkena seringkali mengarah pada masalah gaagal nafas.


·         Merupakan indikator yang baik terhadap gangguan fungsi pernafasan atau menurunnya kapasitas vital


·         Meningkatkan ekspansi paru dan usaha batuk, menurunkan kerja pernafasan dan membatasi terjadinya risiko aspirasi secret




·         Memperbaiki ventilasi dan menurunksn atelektasis dengan memobilisasi sekret dan meningkatkan ekspansi alveoli paru.



·         Mengontrol /menyusun alat sehubungan dengan penyakit utama pasien dan hasil pemeriksaan diagnostik untuk mempertahankan parameter dalam batas benar


·         Nilai untuk mempertahankan persentase oksigen yang dapat diterima dan saturasi untuk kondisi pasien ( 21% sampai 100% ) . Karena mesin tidak selalu akurat, analiser oksigen dapat digunakan untuk memastikan apakah pasien menerima konsentrasi oksigen yang diinginkan






·         Menentukan perkembangan/ munculnya kembali tanda yang menghambat tercapainya tujuan / harapan pasien


·         Menurunkan kelelahan , meningkatkan relaksasi . Menurunkan resiko terjadinya iskemia / kerusakan pada kulit





·         Mempertahankan ekstrimitas dalam posisi fisiologis , mencegah kontraktur



·         Menstimulasi sirkulasi., meningkatkan tonus otot dan meningkatkan mobilisasi sendi


·         Penggunaan otot secara berlebihan dapat meningkatkan waktu yang diperlukan untuk remielinisasi , arenanya dapat memperpanjang waktu untuk penyembuhan

·         Kegiatan latihan pada bagian tubuh yang terkena yang ditingkatkan secara bertahap / terprogram , meningkatkan fungsi organ secara normal dan memiliki efek psikologis yang positif


·         Bermanfaat dalam menciptakan kekuatan otot secara individual /latihan terkondisi dan program latihan berjalan dan mengidentifikasi alat bantu untuk mempertahankan mobilisasi dan kemandirian dalam melakukan aktivitas sehari- hari
3
Nutrisi perubahan:  Kurang dari kebutuhan b.d kerusakan otat vagus
Tujuan :
Setelah dilakukan intervensi selama 3x24 jam kekurangan nutrisi tidak terjadi.

KH :
Menunjukan berat badan stabil, normalisasi nilai-nilai lab, tidak Tanda-tanda mal nutrisi
·         Kaji kemampuan mengunyah, menelan, batuk pada keadaan teratur

·         Auskultasi bising Usus



·         Catat masukan kalori tiap hari




·         Timbang BB tiap hari

Kolaborasi
·         Berikan makanan TKTP




·         Pasang pertahankan selang NG. berikan makanan enteral

·         Kelemahan otot yang hipotensi menunjukan kebutuhan akan penggunaan NGT

·         Perubahan pungsi lambung dapat terjadi akibat paralisis

·         Mengidentifikasi kekurangan makanan dan kebutuhannya


·         Mengkaji keefektipan aturan diet

·         Makanan suplementasi dapat meningkatkan pemasukan nutrisi

·         Diaberikan jika pasien tidak bisa menelan

Senin, 18 Maret 2013

TIPS MENGHILANGKAN BAU BADAN

Cara Menghilangkan Bau Ketiak Secara Alami

Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa bau ketiak membuat orang disekitar terganggu, maka dari itu kita perlu mengantisipasinya dengan menghilangkan bau ketiak. Beberapa tips yang bisa dipraktekkan:

1. Perhatikan Kebersihan Tubuh
Membiasakan diri dengan membersihkan tubuh secara rutin dapat mencegah dan menghilangkan bau ketiak. Mandi minimal 2 kali sehari dapat membuat badan bersih dan jauh dari bakteri penyebab bau badan.

2. Jauhi Ketiak Lembab
Ketiak yang lembab menyebabkan bakteri penyebab bau tubuh dan berkembang lebih cepat. Usahakan untuk membuat badan dan ketiak anda selalu kering. Keringat sebenarnya tidak berbau tajam, tetapi ketika keringat bergabung dengan bakteri maka akan menyebabkan bau tak sedap.

3. Mandi Yang Bersih
Bagi perempuan ini sudah menjadi kebiasaan, tetapi bagi pria mereka biasanya hanya mandi sebentar sehingga seluruh kotoran dibadan tidak hilang seluruhnya. Urut ketiak anda dengan telapak tangan untuk mengeluarkan daki atau kotoran di ketiak.

*Tambahan: gunakan daun sirih untuk menghilangkan bau badan

Sabtu, 16 Maret 2013

PUISI IBU


DOA UNTUK IBU
Puisi Mutia Fitriyani

Aku tak tau apa yang harus kuLakukan tanpa dia
Dia yang seLaLu mengerti aku
Dia yang tak pernah Letih menasehatiku
Dia yang seLaLu menemani

DiaLah Ibu
Orang yang seLaLu menjagaku
Tanpa dia aku merasa hampa hidup di dunia ini
Tanpa.nya aku bukanlah apa-apa

Aku hanya seorang manusia Lemah
Yang membutuhkan kekuatan
Kekuatan cinta kasih dari ibu
Kekuatan yang Lebih dari apapun

Engkau sangat berharga bagiku
WaLaupun engkau seLaLu memarahiku
Aku tau
Itu bentuk perhatian dari mu
Itu menandakan kau peduLi denganku

Ya Allah,,
BerikanLah kesehatan pada ibuku
PanjangkanLah umur.nya
Aku ingin membahagiakan.nya
SebeLum aku atau dia tiada

Terimakasih Ibu
Atas apa yang teLah kau berikan padaku
Aku akan seLaLu menyanyangimu

JASA TAK TERLUPAKAN
Puisi Patma

Ibu...
kau membingbingku selama satu tahun
kau begitu baik padakuwaluapun aku sukamarah-marah

Ibu....
kau begitu ceria dan rajin dari pada guru yang lain
ibu...
kau yang pintar,baik,ramah,cantik,dan sopan

Ibu...
kalau aku membuat salah tolong maafkan aku
karena aku cuma kesal karna aku selalu diejek

Ibu...
kalau aku lagi sedih kau menghibur aku
kalau aku lagi kesal kau menghiburku

Ibu...
terimakasih atas jasa-jasamu jika aku
masih sempat bertemu dengan ibu
aku sangat ingin memeluk ibu

 TANGISAN MATA BUNDA
Puisi Monika Sebentina

Dalam Senyum mu kau sembunyikan letih mu
Derita siang dan malam menimpa mu
tak sedetik pun menghentikan langkah mu
Untuk bisa Memberi harapan baru bagi ku

Seonggok Cacian selalu menghampiri mu
secerah hinaan tak perduli bagi mu
selalu kau teruskan langkah untuk masa depan ku
mencari harapan baru lagi bagi anak mu

Bukan setumpuk Emas yg kau harapkan dalam kesuksesan ku
bukan gulungan uang yg kau minta dalam keberhasilan ku
bukan juga sebatang perunggu dalam kemenangan ku
tapi keinginan hati mu membahagiakan aku

Dan yang selalu kau berkata pada ku
Aku menyayangi mu sekarang dan waktu aku tak lagi bersama mu
aku menyayangi mu anak ku dengan ketulusan hati ku

Jumat, 15 Maret 2013

ASKEP DEPRESI POST PARTUM


A.      Epidemiologi
Post partum blues adalah gangguan suasana hati yang dialami oleh sekitar 50 % wanita dalam 3 sampai 6 hari setelah melahirkan (kendell dkk, 1987) terdapat bukti bahwa kemurungan (blues) ini dipicu oleh turunnya progesterone (Harris dkk, 1994) yang terjadi untuk sementara waktu dan akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.
Hansen, Jones berdasarkan hasil studinya di Amerika Serikat, menjelaskan bahwa penderita postpartum blues berkisar antara 75% - 80% ibu sesudah melahirkan. Meskipun postpartum blues dianggap sebagai hal yang normal pada ibu dalam menjalani peran barunya dan biasanya menghilang dalam beberapa hari setelah melahirkan, sejumlah wanita memiliki gejala yang lebih buruk atau lebih lama yang disebut depresi postpartum dengan jumlah bervariasi dari 5% hingga lebih dari 25% setelah ibu melahirkan (Daw dan Steiner dalam Bobak dkk., 1994, h.665).
B.     Definisi
Post partum blues ini dikategorikan sebagai sindroma gangguan mental yang ringan oleh sebab itu sering tidak dipedulikan sehingga tidak terdiagnosa dan tidak ditatalaksana sebagai mana seharusnya akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak menyenangkan dan dapat membuat perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya , dan bahkan kadang-kadang gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis pasca salin yang mempunyai dampak lebih buruk terutama dalam masalah hubungn perkawaninan dengan suami dan perkembangan anaknya. (Harris dkk, 1994)
C.      Etiologi
Penyebab baby blues atau postpartum blues masih belum dapat diterangkan secara jelas. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab adalah faktor paritas, hormonal, umur, dan latar belakang psikososial.
·         Faktor paritas adalah riwayat obstetri dan komplikasi yang meliputi riwayat hamil sampai melahirkan sebelumnya.
·         Faktor hormonal adalah kadar hormone progesteron yang naik dan estrogen yang menurun secara cepat setelah melahirkan.
·         Faktor umur adalah umur saat kehamilan dan melahirkan yang berkaitan dengan kesiapan mental untuk menjadi seorang ibu.
·         Faktor latar belakang psikososial meliputi tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkan dan memadai tidaknya dukungan social lingkungan (suami, keluarga dan teman) (Munawaroh, 2008).
·         Penelitian Munawaroh (2008) menyimpulkan bahwa kejadian melahirkan sectio caesaria lebih berisiko mengalami baby blues syndrome daripada postpartum normal, maka kepada ibu sectio caesaria perlu diberikan dukungan fisik dan psikologis dalam pencegahan baby blues syndrome, dengan alasan lama perawatan sectio caesaria. 
D.        Komplikasi
1.      Gangguan jiwa dapat meliputi munculnya gejala:
·         waham
·         halusinasi
·         kerusakan psikoafektif
2.      Risiko bunuh diri/mencederai diri
3.      Risiko mencederai anak
E.  Pemeriksaan
Tidak ada yang pasti untuk menyakinkan diagnosis depresi postpartum, hanya dibuat berdasarkan penilaian secara klinik.
F.   Asuhan keperawatan
NO
DX. keperawatan
Tujuan
Intervensi
Rasional
1
Ansietas b.d krisis situasional ditandai dengan klien merasa gelisah tanpa sebab, cemas
Tujuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam
 klien dapat mengetahui dan berdiskusi tentang rasa takutnya
KH :
1.      Klien menunmjukan relaksasi dan melaporkan berkurangnya ansietas
2.      Menunjukian cara-cara sehat dalam mengatasi ansietrasnya
3.      Menunjukan pemecahan masalah
1)      Pahami rasa takut klien. Lakukan observasi validasi

2)      Nyatakan realita dari sityuasi seperti apa yang dilihat pasien,tanpa mempertanyaakan apa yang dipercaya

3)      Evaluasi mekanisme koping selama digunakan untuk menghadapi perasaan atau anvcaman yang sesungguhnya
4)      Ulangi mekanisme koping yang digunakan pada masa lalu dalam memecahkan masalah
5)      Pertahankan kontak sering dengan orang terdekat. Selalu bersedia mendengarkan dan berbicara jika dibutuhkan
Kolaborasi :
1)      Tanyakan orang terdekat untuk mengidentifikasi apa yang tejadi
2)      Gunakan sentuhan terapeutik
1)      Perasaan adalah nyata dan membantu pasien untuk terbuka sehingga dapatt mendiskusikan pa yang pasien rasakan
2)      Pasien mungkin perlu menolak realitas sampai siap untuk mengahadapinya. Sanngat tidak berguna untuk memaksa klienn menghadapi kenyataannya
3)      Mungkin dapat menghadapi situasi pada masa itu sehingga kloien mampu menggunakannya untuk nmasalah yang dihadapinya


4)      Member kesempatan membngun sumber-sumber yang dapat digunakan secara baik oleh pasien/orang terdekat

5)      Dapat memantapkan hunbungan, meningkatkan ekspresi perasaan dan membantu pasien/orang terdekat untuk melihat realitas


1)      Membantu dalam mengidentifikasi wilayah diman terdapat control dan juga tidak dapat control
2)      Membantu memenuhi kebutuhan dasr manusia. Penurunan raa terisolasi dan membantu pasien merasakan perasaan khuatir
2
Gangguan pola tidur b.d respon hormonal dan psikologis (ansietas) ditandai dengan klien mengeluh sulit tidur
Tuijuan : setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam

Menidentifikasi penilaian untuk mengakomodasi perubahan yang diperlukan dengan kebutuhan terhadap anggota keluarga baru, melaporkan peningkatan rasa sejaterah dan istirahat.
Kh : Klien melaporkan perbaikan da;laam pola tidur
·      Melaporkan peningkatan rasa sejahtera dan segar
1.      Kaji tingkat kelelahan dan kebutuhan untuk istirahat



2.      Kaji factor-faktor bila ada yuang mempengaruhi tidurnya

3.      Berikan informasi tentang kebutuhan untuk tidur/istirahat setelah kembali ke rumah
4.      Kaji lingkungan rumah, dan bantuan di rumah.



1.      Persalinan atau kelahiran yang lama dan sulit, khususnya bila ini terjadi malam meningkatkan tingakt kelelahan.
2.      Membantu meningkatkan istirahat, tidur dan relaksasi dan menurunkan rangsangan.
3.      Rencana yang kreatif yang membolehkan unruk tidur dengan bayi lebih awal serta tidur siang membantu untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

4.      Multipara dengan anak dirumah memerlukan tidur lebih banyak dirumah sakit untuk mengatasi kekurangan tidur dan memenuhi kebutuhannya
3
Resiko terhadap perubahan menjadi orangtua b.d pengaruh komplikasi fisik dan emosionak ditandai dengan klien merasa kurang saying kepada anaknya
Tujuan : Mengungkapkan masalah dan pertanyaan tentang menjadi orang tua, mendiskusikan peran menjadi orang tua secara realistis, dan secara aktif mulai melakukan tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat.

KH :
·      Mengungkapkan pemahaman akan prilaku bayi,status fisik dan kebutuhan perawatan
·      Beradaptasi dalam pewrawatan bayi
·      Mendemonstrasikan penguasaan aktifitas perawatan bayi
1.      Berikan doronmgan untuk setiap tugas yang diselesaika

2.      Berikan informasi mengenai perawatan bayi dirumah

3.      Kaji kekuatan,kelemahan usia,sytatus perkawinan,ketersediaan sumber pendukung dan latarbelakang budaya
4.      Evaluasi sifat dari menjadi orangtua secara emosi dan fisik yng pernah dialami klien selama kanak0-kanak
1.      Meningkatkan kepercayaan diri orangtrua  dalam kemampuan meraka merawat bayi

2.      Membantu orangtua meningkatkan kompetensi  dan kenyamanan merawat bayi

3.      Menidentifikasi factor-faktor resiko dan sumber-sumber pendukung, yang mempengaruhi





4.      Menidentifikasi factor-faktor resiko dan sumber-sumber pendukung, yang mempengaruhikemampuan klien/pasangan untuk menerima tantangan peran menjadi orang tua. kemampuan klien/pasangan untuk menerima tantangan peran menjadi orang tua.



DAFTAR PUSTAKA

 Marshall, Fiona. 2004. Depresi Pasca Melahirkan. Jakarta: Arcan

AtmaJaya Medical Education on Reproductive and Addictive. 2008. Depresi Setelah Melahirkan, Bagaimana Cara Mencegah dan Mengatasinya?.


Doenges, Marilynn. E & Mary Frances Moorhouse. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi : Pedoman Untuk perencanaan dan Dokumentasi Perawatan Klien Edisi 2 . Jakarta : EGC

BERPAKAIAN MENURUT ISLAM

Pakaian dalam bahasa arab "Libasus-siyabun". Islam mengajarkan cara berpakaian yang baik dan menutup aurat. Dalam Al-qur'an dijelaskan yang artinya:

"Wahai anak cucu Adam! sesungguhnya kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian taqwa itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat." (Q.S Al-A'raf [7] :26)

Dalam hal adab berpakaian wanita dijelaskan dalam Al-qur'an sebagai berikut:

"Wahai Nabi! katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan istri orang mukmin, Hendaklah mereka menutupkan: jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu agar meeka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (Q.S Al-Ahzab [33] :59)

Adapun akhlak berpakaian mempunyai kriteria sebagai berikut:
1. Tidak jarang dan tidak ketat
Islam melarang kaum muslim memperlihatkan aurat atau lekuk tubuh kepada yang bukan muhrimnya

2. Tidak menyerupai laki-laki atau sebaliknya
Karena hadist yang bersumber dari Ibnu Abbas r.a ia menuturkan bahwa Rosulullah melaknat (mengutuk) kaum laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.

3. Tidak menyerupai busana khusus kaum non muslim

4. Pantas dan sederhana

5. Disunahkan memakai baju putih
 Sebagaimana sabda Rosulullah saw yang artinya:
"Dari Ibnu Abbas r.a., Bahwasannya Rosulullah saw bersabda: Pakailah dari pakaian-pakaian yang putih dan bungkuslah orang mati diantara kamu dengannya, sesungguhnya ia sebaik-baik pakaianmu." (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)

6. Pakaian tidak boleh bergambar mahluk yang bernyawa atau gambar salib

7. Laki-laki tidak boleh memakai kain sutera kecuali dalam keadaan terpaksa.
Sebagaimana sabda Rosulullah saw yang artinya:
"Dari Abu Musa r.a., bahwasannya Rosulullah saw bersabda: Diharamkan (memakainya) kain sutera dan emas bagi kaum laki-laki dari umatku dan dihalalkan keduanya bagi wanita."

8. Bagi wanita seharusnya menutup seluruh badannya termasuk kedua kakinya.

9. Disunahkan mendahulukan bagian kanan.